Telepon Kami:+62 (511) 3301610
 

Acara Puncak Peringatan Hari Aids Sedunia Tingkat Provinsi

Filed Under: Berita dan Informasi Selasa, 8 Desember 2015 pukul 02:05 WITA — Dilihat 565 kali
Bagikan Informasi Ini

Akfar ISFI Banjarmasin

 

Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin Akademi Farmasi Isfi banjarmasin

Gambar diambil :

Pada Acara Puncak Peringatan Hari Aids Sedunia Tingkat Provinsi, Tanggal 07 Desember 2015

Di Gedung Saraba Sanggam Pemprov Kalsel

Yang dihadiri oleh Dinas Kesehatan, KPA, plt Gubernur, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan Unsur Pemerintahan Prov. Kalsel, Perwakilan Civitas Akademik Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin, Akademi Perawat Kesdam, Universitas Islam Kalimantan dan Stikes Cahaya Bangsa

 

Realitas HIV dan AIDS

Barangkali tidak banyak yang mengetahui bahwa setiap 1 Desember dirayakan sebagai Hari AIDS Sedunia. Peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) yang setiap tahun dirayakan ini merupakan momentum penting bagi semua sektor yang bekerja dalam penanggulangan HIV dan AIDS, untuk berkampanye bersama mengenai pencegahan dan penanggulangannya.
Sebagaimana fenomena korupsi yang begitu menggurita di Indonesia, HIV dan narkoba juga merupakan salah satu persoalan besar yang sedang dihadapi bangsa ini dan juga bangsa lain di seluruh dunia. HIV dan narkoba menjadi permasalah universal. Saat ini, ada jutaan orang di muka bumi ini, terutama generasi muda telah menjadi korban HIV dan narkoba.
Tentunya, kita semua memahami bahwa masa depan suatu masyarakat, bangsa dan negara berada di pundak generasi mudanya. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh HIV dan narkoba ini, baik secara fisik, psikis, sosial, ekonomi, dan budaya menjadi suatu alasan yang kuat bahwa HIV dan narkoba adalah musuh bersama seluruh umat Manusia. Upaya membebaskan bangsa ini dari cengkraman HIV dan narkoba, menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh komponen bangsa Indonesia.
Di Indonesia, realitas berkata bahwa sejak kali pertama ditemukan pada 1987 sampai dengan September 2015, HIV dan AIDS sudah tersebar di 381 (76%) dari 498 Kabupaten/Kota di seluruh provinsi di Tanah Air. Provinsi pertama kali yang menemukan HIV dan AIDS adalah Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adanya penularan virus mematikan itu adalah adalah Provinsi Sulawesi Barat pada 2011.
Secara kumulatif sejak 1 Januari 1987 sampai dengan 30 September 2015 telah terjadi kasus HIV sebesar 150. 296 dan kasus AIDS sebanyak 55.799. Persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun sebesar 69,1%, diikuti kelompok umur 20-24 tahun sebesar 17,2%, dan kelompok umur di atas 50 tahun sebesar 5,5%. Rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 1 berbanding 1. Sedang persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual sebesar 57%, LSL (Lelaki Seks Lelaki) sebesar 15%, dan penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (Pengguna Narkoba Suntik) sebesar 4%. (Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2015).
Bagaimana dengan realitas di Kalimantan Selatan? Sejak pertama kali ditemukan pada 2002 di wilayah Hulu Sungai Utara sampai dengan September 2015, jumlah kasus HIV dan AIDS di Kalimantan Selatan adalah sebesar 1.194. Rinciannya, HIV sebanyak 645 kasus dan AIDS 549 kasus. Persentase infeksi HIV AIDS tertinggi dilaporkan pada usia 20-29 tahun sebesar 38,8 persen, diikuti kelompok umur 30-39 tahun sebesar 31,8 persen, kelompok umur 40-49 tahun sebesar 12,6 persen dan kelompok umur 40-59 tahun sebesar 3,2 persen.

Berdasarkan jenis kelamin, rasio laki-laki dan perempuan adalah 1 berbanding 1. Sedangkan persentase faktor risiko HIV dan AIDS tertinggi adalah Seksual sebesar 87,7 persen, Penasun (4,6 persen), Perinatal (dari Ibu ke Anaknya) 2,5 persen, dan Transfusi darah sebesar 0,5 persen.
Seluruh Kabupaten/Kota di Kalsel sudah menemukan dan melaporkan kasus HIV dan AIDS. Secara berurutan, kabupaten dan kota yang menyumbangkan angka HIV dan AIDS terbanyak adalah Kota Banjarmasin (414 kasus), Kabupaten Tanahbumbu (258 kasus), Kota Banjarbaru (133 kasus), Kabupaten Kotabaru (53 kasus), Kabupaten Tabalong (52 kasus), Kabupaten Tanah Laut (45 kasus) Kab. Banjar (39 kasus), Kabupaten Batola (35 kasus), Kabupaten Hulu Sungai Selatan (30 kasus), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (21 Kasus), Kabupaten Hulu Sungai Utara (16 kasus), Kabupaten Tapin (14 kasus), Kabupaten Balangan (6 kasus), dan dari Kabupaten Kota di luar Kalimantan Selatan sebanyak 78 kasus.
Sementara berdasarkan jenis pekerjaan, orang dengan HIV AIDS (ODHA) di Kalimantan Selatan terbanyak adalah Wanita Pekerja Seks (25,4 persen), Tenaga Non-Profesional (21,7 persen), Ibu Rumah Tangga (15,1 persen), dan Wiraswasta/Usaha Sendiri (6,8 persen). Sedangkan apabila dilihat dari Populasi Kunci yang terkena HIV dan AIDS, maka yang paling banyak adalah laki-laki pelanggan pekerja seks sebesar 31,9 persen, disusul pekerja seks (26,2 persen), Pasangan Risti (Ibu Rumah Tangga) 20,4 persen, Lelaki Seks Lelaki (gay) 7,2 persen, Penasun (4,7 persen), anak (2,6 persen), waria (1,1 persen), dan tidak diketahui sebesar 1,5 persen.
Seiring makin meningkatnya besaran realitas masalah HIV dan AIDS, maka dituntut sebuah terobosan yang cerdas dan tepat guna menahan laju penyebarannya di masyarakat. Oleh karenanya, Indonesia telah menyusun sebuah strategi baru untuk menghadapinya. Strategi yang tertuang dalam Strategi Nasional 2015-2019 ini menjabarkan paradigma baru dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia dari upaya yang terfragmentasi menjadi upaya yang komprehensif dan terintegrasi dan diselenggarakan dengan harmonis oleh semua pemangku kepentingan (stakeholder).
Sejumlah isu strategis di dalam Strategi Rencana Aksi Nasional 2015-2019 yang dikeluarkan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional adalah isu tentang pentingnya integrasi upaya penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan yang berlaku di Indonesia. Isu lain adalah akselerasi upaya perawatan, pengobatan, dan dukungan pada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA) dijalankan bersamaan dengan akselerasi upaya pencegahan baik di lingkungan populasi berisiko tinggi maupun di lingkungan populasi berisiko rendah dan masyarakat umum. Kemudian adanya penguatan Komisi Penanggulangan AIDS di semua tingkat dan kelompok-kelompok kerja penanggulangan AIDS (Pokja AIDS) di semua sektor.
Akhirnya, permasalahan seputar HIV dan AIDS ini bagaikan sebuah fenomena gunung es. Apa yang kelihatan di permukaan hanyalah bagian kecil dari yang tersembunyi di bawahnya. Berbagai faktor penyebab masalah ini harus terus digali dan digerus agar mata rantai penularan dapat kita putuskan.
Di bawah dari realitas yang kelihatan ialah ‘bongkahan raksasa’ yang merupakan akar dari realitas ini. Di balik penularan HIV dan AIDS, faktor ekonomi dan budaya ternyata memegang peran sentral. Kedua faktor itu semakin hari semakin kokoh sehingga penyebaran HIV dan AIDS semakin menjadi-jadi, data kuantitatif seputar HIV dan AIDS terus meningkat dari tahun ke tahun. Tidak hanya di Kalsel, di Indonesia pun angka itu terus menanjak. HIV dan AIDS pun telah merangsek masuk ke dalam pelbagai segi kehidupan manusia, dalam pelbagai profesi dan usia.
Secara nyata, generasi muda menjadi korban virus mematikan ini. Hal itu menjelaskan bahwa realita sosial di Indonesia, khususnya Kalsel sudah sangat parah. Maka, usaha membongkar realita ini perlu dilakukan oleh semua pihak yang memiliki kesadaran dan keprihatinan sosial.
Selamat Hari AIDS Sedunia Tahun 2015. Saatnya semua bertindak untuk berperilaku sehat. (*)

Dikutip dari Tulisan Imaddudin Parhani MA
Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Kalsel
http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/12/01/realitas-hiv-dan-aids

 
 
 
 
Silakan komentari atau diskusikan informasi di atas