Telepon Kami:+62 (511) 3301610
 

Pelatihan Pembuatan Ekstrak Terstandar & Standarisasi Ekstrak Bahan Alam

Filed Under: Kegiatan Dosen Senin, 25 April 2016 pukul 13:24 WITA — Dilihat 743 kali
Bagikan Informasi Ini

akfar isfi bjm

Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat menunjukkan eksistensinya di dalam menyelenggarakan pelatihan. Pelatihan mengangkat tema PEMBUATAN EKSTRAK TERSTANDAR DAN STANDARISASI EKSTRAK BAHAN ALAM. Kegiatan dilaksanakan selama 2 hari mulai tanggal 19 hingga 20 April 2016 di Laboratorium Farmasi Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Kegiatan menghadirkan pembicara dari UGM Dr. rer.nat., Yosi Bayu Murti, Apt., serta dari Program Studi Farmasi Universitas Lambung Mangkurat Dr. Sutomo, M.Si., Apt., dan Dr. Arnida, M.Si., Apt. Pelatihan tersebut juga melibatkan Pusat Studi Obat Berbasis Bahan Alam Universitas Lambung Mangkurat.

Pelatihan dibuka oleh Dekan Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat Drs, Heri Budi Santoso, M.Si dan Ketua pelaksana Dr. Sutomo, M.Si., Apt,.

Pelatihan yang dilaksanakan dua hari itu, diikuti 55 peserta dari berbagai kalangan. Seperti Balai Penelitian Kehutanan, Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, STM Borneo Lestari, FAK Kehutanan, Akedemi Farmasi ISFI, dan SMA. Bahkan ada peserta yang jauh-jauh dari Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin yang pada acara ini diwakili oleh Siska Musiam M.Si dan Dwi Rizky Febrianti M.Farm, Apt

Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai bagaimana teknik pembuatan ekstrak bahan alam dan teknik standarisasinya serta merupakan salah satu bentuk kongkrit dalam melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi dalam memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pada kesempatan lain Dwi Rizky Febrianti mengungkapkan pelatihan sangat baik yang bertujuan meningkatkan kemampuan teknis praktisi dan akademisi terutama Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin dalam pembuatan ekstrak terstandar, standarisasi dan memberikan kemampuan dalam skrining senyawa kimia bahan alami melalui metode kromatograi lapis tipis. Pelatihan ini bermaksud juga untuk menyadarkan masyarakat Kalsel agar bisa membuat obat tradisional yang aman. Orang pasti percaya bila sudah ada standarisasinya. Kalau jamu biasanya hanya empiris atau turun temurun,” jelasnya. Di Kalsel dari segi pemanfaatannya masih kurang, karena produk sekarang relatif kecil dibandingkan jumlah tanaman yang ada. Oleh karena sumber daya manusia yang tidak ada untuk memanfaatkannya. Dibanding daerah Jawa kita cukup ketinggalan dalam memanfaatkan obat herbal berstandar, tambahkan Siska Musiam ketika ditanyakan mamfaat dari pelatihan ini untuk lingkungan sekitar.

(feb, sis, iwn)

 
 
 
 
Silakan komentari atau diskusikan informasi di atas